AYAT MAHKAMAT DAN MUTASYABIHAT
AYAT MAHK AMAT DAN MUTASYABIHAT
- Jenis-jenis Ayat Mutasyabihat
Menurut Al-Zarqani, ayat-ayat mutasyabihat
dapat dibagi kepada tiga macam: [1]
1.
Ayat-ayat
yang seluruh manusia tidak mampu mengetahuinya, seperti pengetahuan tentang zat
Allah dan hakikat sifat-sifatNya, pengetahuan tentang kiamat da hal-hal gaib
lainnya. Allah berfirman dalam surat
Thaha (20):5:
`»oH÷q§9$# n?tã ĸöyèø9$# 3uqtGó$#
Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy
2.
Ayat-ayat
yang setiap orang bisa mengetahui maknanya melalui penelitian dan pengkajian,
seperti ayat-ayat mutasyabihat yang kesamarannya timbul karena
ringkasnya, panjangnya, ayat. Contoh firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 3:
ôMtBÌhãm öNà6øn=tã öNä3çG»yg¨Bé& öNä3è?$oYt/ur öNà6è?ºuqyzr&ur öNä3çG»£Jtãur öNä3çG»n=»yzur ßN$oYt/ur ËF{$# ßN$oYt/ur ÏM÷zW{$# ãNà6çF»yg¨Bé&ur ûÓÉL»©9$# öNä3oY÷è|Êör& Nà6è?ºuqyzr&ur ÆÏiB Ïpyè»|ʧ9$# àM»yg¨Bé&ur öNä3ͬ!$|¡ÎS ãNà6ç6Í´¯»t/uur ÓÉL»©9$# Îû Nà2Íqàfãm `ÏiB ãNä3ͬ!$|¡ÎpS ÓÉL»©9$# OçFù=yzy £`ÎgÎ/ bÎ*sù öN©9 (#qçRqä3s? OçFù=yzy ÆÎgÎ/ xsù yy$oYã_ öNà6øn=tæ ã@Í´¯»n=ymur ãNà6ͬ!$oYö/r& tûïÉ©9$# ô`ÏB öNà6Î7»n=ô¹r& br&ur (#qãèyJôfs? ú÷üt/ Èû÷ütG÷zW{$# wÎ) $tB ôs% y#n=y 3 cÎ) ©!$# tb%x. #Yqàÿxî $VJÏm§
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan;
saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan;
Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari
saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu
yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan;
ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari
isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu
itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan
diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan
(dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi
pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
3.
Ayat-ayat
mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu yaitu
ulama-ulama yang jernih jiwanya.
Melihat dari pembagian ayat-ayat mutasyabihat di atas, agaknya Az-Zarqani
mengelompokkan ayat-ayat tersebut dari segi tingkat kesulitan dalam
memahaminya, dalam artian beliau mengelompokkan berdasarkan orang yang akan
memahaminya, rasikh tidaknya tingkat ilmu seseorang secara umum, para
ulama secara khusus.
- Hikmah Keberadaannya Dalam Al-Qur’an
Mengenai hikmah tentang adanya ayat-ayat mutasyabihat di dalam
Al-Qur’an, para ulama telah banyak mengkaji hikmahnya, di antara hikmahnya
seperti dibawah ini:
1.
Al-Suyuthi
Imam al-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan menyebutkan hikmah di antaranya:
[2]
a. Ayat-ayat mutasyabihat ini
mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkapkan maksudnya sehingga
menambah pahala bagi para pengkajinya.
- Sekiranya Al-Qur’an seluruhnya muhkam tentunya hanya ada satu mazhab, akan tetapi karena Al-Qur’an mengandung ayat muhkam dan matasyabihat maka masing-masing mazhab akan menggali dalil untuk menguatkan pendapatnya. Selanjutnya semua mazhab akan memperhatikan dan merenungkannya. Sekiranya mereka terus menggalinya maka ayat-ayat muhkamlah yang menjadi penafsirnya.
- Jika Al-Qur’an mengandung ayat-ayat utasyabihat, maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan lainnya.
- Al-Qur’an berisi dakwah terhadap orang-orang tertentu dan umum. Orang awam biasanya kurang menyukai hal-hal yang abstarak. Oleh karena itu sebaiknya kepada mereka disampaikan penjelasan yang sesuai dengan tingkatan akal mereka. Pertama adalah ayat-ayatmutasyabihat yang dengannya mereka diajak bicara pada tahap permulaan, lalu kemudian berupa ayat-ayat muhkamat yang menjelaskan hakikat yang sebenarnya.
2.
Al-Zarqani
Al-Zarqani menyebutkan sepuluh hikmah keberadaan ayat-mutasyabihah dalam
Al-Qur’an. Empat di antaranya hikmah yang telah disebutkan oleh al-Suyuthi di
atas. Ke empat hikmah ini dikutib oleh menjelaskan bahwa ada enam hikamah
keberadaan ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an: [3]
a.
Ayat-ayat
mutasyabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak adapat
mengetahuisesuatu. Ketika Tuhan menampakkan dirinya pada bukit, bukit itu
hancur luluh dan Musa jatuh pingsan. Bagaimana sekiranya Tuhan menampakkan
hakikat zat dan sifatnya pada manusia? Tuhan merahasiakan kapan terjadinya
harikiamat merupakan rahmat bagi manusia, agar manusia tidak bermalas-malas
mempersiapkan perkalan untuk menghadapinya.
b.
Keberadaan
ayat ini juga merupakan cobaan dan ujian bagi manusia, apakah manusia percaya
atau tidak tentang hal gaib berdasarkan berita yang disampaikan oleh orang yang
benar. Orang-orang yang mendapat hidayah akan mempecayainya sekalipun mereka
tidak mengetahui rinciannya.sedangkan orang-orag yang sesat akan
mengingkarinya.
c.
Ayat-ayat
ini menjadi dalil atas kelemahan dan kebodohan manusia.
d. Ayat-ayat
mutasyabihat dalam Al-Qur’an menguatkan mu’jizatnya, sebab setiap ayat
mengandung arti dan makna yang tersembunyi yang membawa kepada tasyabuh
9kesamaran) memiliki andil yang besar dalam kebalagahannya dan sampainya
ketingkat yang paling tinggi dalam bayan.
e.
Keberadaan
mutasyabihat mempermudah orang menghafal dan memelihara Al-Qur’an. Sebab
setiap kalimat yang mengandung banyak penafsiran yang berakibat ketidak jelasan
akan menunjuk banyak makna yang lebih dari pengertian yang dipahami dari
kalimat asal. Sekiranya makna-makna sekunder ini diungkapkan secara langsung
niscaya Al-Qur’an akan menjadi berjilid-jilid. Hal ini tentunya menyulitkan
untuk menghafal, memahami dan memeliharanya.
f.
Terkandungnya
ayat muhkamat dan mutasyabihat dalam Al-Qur’an memaksa orang yang
menelitinya untuk menggunakan argument-argumen akal. Dengan demikian ia
terbebas dari taklid.
Komentar
Posting Komentar