ulumul quran
A. Definisi Ilmu Makkiyah dan
Madaniyah Ilmu Ilmu Makkiyah dan Madaniyah di definisikan sebagai ilmu yang
membahas klasifikasi surat-surat dan ayat-ayat yang di turunkan di Mekah dan
Madinah. Di kalangan ulama terdapat beberapa pendapat tentang kriteria untuk
menentukan Makkiyah atau Madaniyah suatu surat atau ayat. Sebagian ulama
menetapkan lokasi turun ayat / surat sebagai dasar penentuan Makkiyah dan
Madaniyah. المكّيّ ما نُزلَ بمكّةَ ولو بعد الهجرةَ
والمدني ما نُزلَ بالمدينة "Makkiyah
ialah surat atau ayat yang di turunkan di Mekah sekalipun sesudah hijrah,
sedangkan Madaniyah ialah surat atau ayat yang di turunkan di Madinah."
Definisi ini ada kelemahannya (tidak jamik dan manik), karena hanya mencakup
semua ayat dan surat yang turun di daerah Mekah dan surat yang turun di daerah
Madinah. Tetapi definisi tersebut tidak bisa mencakup surat atau ayat yang
turun di luar daerah Mekkah dan Madinah. Misalnya surat al-Taubah ayat 43 dan
surat al-Zuhruf ayat 45. Ada pula ulama yang menyatakan orang (golongan) yang
menjadi sasaran ayat / surat sebagai kriteria penentuan Makkiyah dan Madaniyah.
المكّي ما وقع خطاباً لأهل المكّة والمدنيّ ما وقع
خطاباً لأهل المدينة “Makkiyah
ialah surat atau ayat yang khitabnya (seruannya) jatuh pada masyarakat Mekah,
sedangkan Madaniyah ialah surat atau ayat yang khitabnya jatuh pada penduduk
Madinah” Definisi ini di maksudkan bahwa ayat/surat yang di mulai dengan yâ
ayyuhannâsu adalah Makkiyah karena penduduk Mekah waktu umumnya masih kafir,
sedangkan ayat/surat yang dimulai dengan yâ ayyuhalladzîna âmanû adalah
Madaniyah karena penduduk Madinah waktu ketika itu telah tumbuh iman di dada
mereka. Namun definisi ini masih mengandung kelemahan. Kalau diteliti dengan
seksama, ternyata kebanyakan kandungan al-Quran tidak selalu dibuka dengan
salah satu seruan itu. Penetapan seperti ini juga tidak konsisten. Misalnya,
surat al-Baqarah itu disebut Madaniyah tetapi di dalamnya terdapat ayat,
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB
öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇËÊÈ “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”[1] Ada pula
ulama yang menetapkan, bahwa masa turun ayat/surat adalah merupakan dasar
penentuan Makkiyah dan Madaniyah, المكّي ما نُزّلَ قبل
هجرةَ الّرّسول صلّى الله عليه وسلّم وإن كان نزوله بغير مكّةَ والمدنيّ ما نزّل
بعد الهجرة وإن كان نزوله بمكّة “Makkiyah
adalah ayat/surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun
turunya di luar Mekah Sedangkan Madaniyah adalah surat atau ayat yang di
turunkan sesudah Nabi hijrah, meskipun turunnya di Mekah”.[2] Definisi terakhir
inilah yang termasyhur (popular), karena mengandung pembagian Makkiyah dan
Madaniyah secara tepat. Meskipun definisi terakhir ini di pandang paling sahih,
namun secara objektif harus diakui bahwa ketiga definisi ini mengandung tiga
unsur yang sama yaitu masa, lokasi dan sasaran ayat atau surat yang di
turunkan. B. Klasifikasi Ayat-Ayat dan Surat-Surat Al-Qur’an Pada umumnya, para
ulama membagi surat-surat al-Qur’an menjadi dua kelompok, yaitu surat-surat
Makkiyah dan Madaniyah. Mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah
masing-masing kelompoknya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah surat
Makkiyah ada 94 surat, sedangkan Madaniyah ada 20 surat. Sebagian ulama lain
mengatakan bahwa jumlah surat Makkiyah ada 86 surat, sedangkan yang Madaniyah
ada 28 surat. Dan pendapat inilah yang dipakai di mushaf ‘Utsmani.
Perbedaan-perbedaan pendapat para ulama itu dikarenakan adanya sebagian surat
yang seluruhnya ayat-ayat Makkiyyah atau Madaniyah dan ada sebagian surat lain
yang tergolong Makkiyah atau Madaniyah, tetapi di dalamnya berisi sedikit ayat
yang lain statusnya. Surat-surat al-Qur’an itu terbagi menjadi empat macam[3] :
1. Surat-surat Makkiyah murni, yaitu surat-surat Makkiyah yang seluruh ayat-ayatnya
juga berstatus Makkiyah semua, tidak ada satupun yang Madaniyah. Contohnya
surat al-Muddatsir, al-Qiyâmah, dan sebagainya 2. Surat-surat Madaniyah murni,
yaitu surat-surat Madaniyah yang seluruh ayat-ayatnya juga berstatus Madaniyah
semua, tidak ada satupun yang Makkiyah. Contohnya surat Ali ‘Imron, al-Nisâ dan
lain sebaginya 3. Surat-surat Makkiyah yang berisi ayat Madaniyah, yaitu
surat-surat yang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, sehingga
berstatus Makkiyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus
Madaniyah. Contohnya surat al-A’râf yang hampir keseluruhannya Makkiyah,
kecuali ayat 163-171 termasuk Madaniyah. 4. Surat-surat Madaniyah yang berisi
ayat Makkiyah, yaitu surat-surat yang sebetulnya kebnyakan ayat-ayatnya adalah
Madaniyah, sehingga berstatus Madaniyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya
yang berstatus Makkiyah. Contohnya surat al-Hajj yang hampir keseluruhannya
Madaniyah, kecuali ayat 51- 55 termasuk Makkiyah. Adapun surat-surat Madaniyah
ada dua puluh delapan surat, yaitu : 1. Al-Baqorah 2. Ali Imron 3. An-Nisa 4.
Al-Maidah 5. Al-Anfal 6. At-Taubah 7. Aro’du 8. 7pt; line-height:
normal;"> Al-Hajj 9. An-Nur 10. Al-Ahzab 11. Muhammad 12. Al- Fath 13.
Al-Hujrat 14. Ar-Rahman 15. Al-Hadid 16. Al-Mujadilah 17. Al-Hasyer 18.
Al-Mumtahanah 19. Ash-Shof 20. Al-Jumu’ah 21. Al-Munafikun 22. Al-Tagobun 23.
Ath-Tholaq 24. At-Tahrim 25. Al-Insan 26. Al-Bayinah 27. Al-Zalzalah 28.
An-Nashr Kemudian, selain surat-surat yang telah disebutkan di atas termasuk ke
dalam kategori surat Makkiyah yang semuanya berjumlah delapan puluh empat
surat. C. Karakteristik Makkiyah dan Madaniyah Para ulama telah menetapkan
karakteristik Makkiyah dan Madaniyah sebagai berikut : 1) Karakteristik
Makkiyah Ada beberapa karakteristik yang dimiliki Makkiyah di antaranya : a.
Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata كلّا Kata ini dipergunakan untuk memberi
peringatan yang tegas dan keras kepada orang-orang Mekkah yang keras kepala. b.
Setiap surat yang di dalamnya terdapat ayat sajdah termasuk Makkiyah, yang
menurut sebagian ulama jumlahnya ada 16 ayat. c. Setiap surat yang di dalamnya
terdapat kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu termasuk Makkiyah, kecuali
surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran yang keduanya termasuk Madaniyah. Adapun surat
al-Ra’d yang masih diperselisihkan. d. Setiap surat yang di dalamnya terdapat
kisah Nabi Adam dan Iblis termasuk Makkiyah, kecuali surat al-Baqarah yang
tergolong Madaniyah. e. Setiap surat yang dimulai dengan huruf abjad, alphabet
(tahjjiy) ditetapkan sebagai Makkiyah, kecuali al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Huruf
tahjjiy yang dimaksud di antaranya ك ي ه ص ع, ط ه س ي,
ح م, dll. f. Mengandung seruan
(nida’) untuk beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat dan apa-apa yang terjadi
di akhirat. Di samping itu, ayat-ayat Makkiyah ini menyeru untuk beriman kepada
para rasul dan para malaikat serta argumentasi terhadap orang musyrik dengan
menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah. g. Membantah
argumen-argumen kaum musyrikin dan menjelaskan kekeliruan mereka terhadap
berhala-berhala mereka. h. Mengandung seruan untuk berakhlak mulia dan berjalan
di atas syariat yang hak tanpa terbius oleh perubahan situasi dan kondisi,
terutama hal-hal yang berhubungan dengan memelihara agama, jiwa, harta, akal,
dan keturunan. i. Kalimatnya singkat padat disertai kata-kata yang mengesankan
sekali, surat dan ayatnya pendek-pendek, kecuali sedikit yang tidak. 2)
Karakteristik Madaniyah Seperti halnya dalam Makkiyah, Madaniyah pun mempunyai
karakteristik : 1. Setiap surat yang berisi kewajiban atau had. 2. Setiap surat
yang di dalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab. 3. Setiap surat yang berisi
hukum pidana, hukum warisan, hak-hak perdata dan peraturan-peraturan yang
berhubungan dengan perdata serta kemasyarakatan dan kenegaraan, termasuk
Madaniyah. 4. Setiap surat yang mengandung izin untuk berjihad, urusan-urusan
perang, hukum-hukumnya, perdamaian dan perjanjian, termasuk Madaniyah. 5.
Setiap surat yang menjelaskan hal ihwal orang-orang munafik termasuk Madaniyah,
kecual surat al-Ankabût yang di turunkan di Makkah. Hanya sebelas ayat pertama
dari surat tersebut yang termasuk Madaniyah dan ayat-ayat tersebut menjelaskan
perihal orang-orang munafik. 6. Menjelaskan hukum-hukum ‘amaliyyah dalam
masalah ibadah dan muamalah,
Komentar
Posting Komentar