I'JAZUL QUR'AN
I’JAZUL QURAN
PENDAHULUAN
Kepada nabi dan rosul
Allah memberikan wahyu dan dikuatkan dengan bukti-bukti yang manusia biasa
tidak dapat lakukan. Bukti-bukti tersebut adalah mukjizat untuk membuktikan
kebenaran agama yang dibawa utusan-Nya dan menambah ke imanan para muslimin.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diberikan
Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril dan merupakan
pedoman hidup manusia karena didalamnya terdapat berbagai petunjuk untuk
seluruh umat manusia yaitu persoalan-persoalan akidah, syariah dan akhlak.
Allah memerintahkan pula kepada umat manusia untuk mempelajari dan
memperhatikan Al-Qur’an.
Al-Qur’an dijamin
dan dipelihara oleh Allah, sehingga banyak orang-orang kafir berupaya membuat
seperti Al-Qur’an tetapi mereka selalu gagal menandinginya. Ini membuktikan
salah satu kemukjitan Al-Qur’an apalagi bila kita kaji lebih dalam, begitu
banyak kemukjitan didalam Al-Qur’an. Sehinggga pemakalah akan menjelaskan
beberapa kemukjitan didalam Al-Qur’an,mengenai pengertian mukjizat,
macam-macam, segi-segi kemukjitan, peranan i’jaz Al-Qur’an dalam pemahaman
Al-Qur’an dan penyampaian risalah serta hubungan Al-Qur’an dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
I’jaz Al-Qur’an
Kata I’jaz terambil
dari bahasa arab, berasal dari kata اعجز yang berarti melemahkan
atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz (معجز) dan Tambahan (ة)
pada akhir kata معجزة
mengandung makna mubalaghah [superlatif]. Dengan demikian kata mukjizat
itu berarti kemampuan untuk melemahkan yang di miliki sesuatu itu sangat tinggi
karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki -Nyal [M. Quraish
Shihab, 2001;23; Abu Zahra al-Najib, 1991;17].[1]
Kata Mukjizat dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian ajaib yang sukar
dijangkau oleh kemampuan akal manusia”. Pengertian itu tidak sama dengan
pengertian kata tersebut dalam istilah agama Islam.[2]
Secara Istilah Manna
al-Qathan menjelaskan[3]
اْظهارصد ق النبي في دعوي
الرسا لة با ظها ر عجز العرب عن معا رضته في معجزته الخا لدة وهي القران و عجزالا جيال
بعدهم
Artinya :
Memperlihatkan kebenaran nabi dalam pengakuannya kerasulannya dengan cara
membuktikan kelemahan orang arab dan generasi sesudahnya untuk menandingi
kemukjizatan Al-Qur’an.
Dari pengertian di
diatas dapat dipahami bahwa bangsa arab dahulu meragukan Al-Qur’an diturunkan
oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW sehingga orang-orang kafir berusaha
menandingi Al-Qur’an dengan membuat seperti Al-Qur’an walaupun satu ayat. Ternyata penyair yang
terkenal sekalipun tidak bisa menandingi
kemukjizatan Al-Qur’an. Allah memberikan kemukjizatan kepada para nabi dan
rosul.
Kelemahan bukan
berarti bahwa Al-Qur’an memiliki suatu kekuatan sehingga orang yang ingin
menandinginya kehilangan kekuatan atau kemampuan. Maksudnya, Al-Qur’an membuat
orang kafir menyadari ketidaksanggupan mereka untuk menandingi Al-Qur’an[4].
Karena itu, Al-Qur’an benar-benar ijaz (melemahkan manusia) tidak ada seorang
pun yang mampu menandinginya dan Al-Qur’an merupakan mukjizat yang abadi.
Keutamaan mukjizat Al-Qur’an bukan hanya ditunjukan kepada bangsa arab
melainkan diperuntukkan kepada seluruh manusia
B.
Macam-macam
Mukjizat
Mukjizat ada dua
macam yaitu bersifat indrawi dan rasional
- Mukjizat bersifat indrawi merupakan mukjizat yang dapat ditangkap indra manusia, bisa dirasakan, bisa dilihat mata,bisa didengar telinga bebrbagai mukjizat yang dibawa nabi terdahulu dan yang disebutkan didalam Al-Qur’an, seperti tongkat nabi Musa, nabi Sulaiman yang bisa mengerti bahasa burung dan segala hewan, nabi Isa yang bisa menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati dengan seizin Allah.[5]
Dimaksudkan untuk
membuat pandangan mata terpana dan membuat kepala tertunduk, karena mereka
kagum melihat hal-hal material yang diluar kebiasaan dan mukjizat bersifat
indrawi ini berhenti seiring dengan berhentinya waktu kejadiannya.
- Mukjizat bersifat rasional memiliki unsur sastra dan akal, yaitu mukjizat yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya (M. Quraish Shihab, 2001:36).[6]
Al-Qur’an merupakan
mukjizat paling besar yang hanya diberikan kepada nabi Muhammad SAW. Mukjizat
ini terus berlangsung menurut apa yang dikehendaki Allah. Mengingat nabi
Muhammad SAW merupakan penutup semua risalah, maka Allah menguatkannya dengan
mukjizat yaitu Al-Qur’an yang kekal dan bersifat universal.
C.
Segi-segi
kemukjitan Al-Qur’an
Dimaksud segi-segi
ijaz Al-Qur’an ialah hal-hal yang ada pada Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa
Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah.
Menurut Quraish Shihab segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an,yaitu
1.
Segi
Kebahasaan
1)
Susunan
kata dan kalimat Al-Qur’an
Susunan kata yang
indah dan ketelitian redaksi Al-Qur’an membuktikan tidak ada yang mampu menandingi keindahan
bahasanya, dari sini kita dapat mengatakan bahwa keunikan Al-Qur’an dari segi
bahasa merupakan kemukjizatan utama yang ditunjukkan kepada masyarakat arab dan
bahkan dapat melemahkan manusia yang mendengarkannya sehingga banyak orang yang
masuk islam setelah mendengar bacaan Al-Qur’an.
Beberapa hal yang
berkaitan dengan susunan kata dan kalimatnya, antara lain, menyangkut:
- Nada dan langgamnya[7]
Jika kita mendengar
ayat-ayat Al-Qur’an di bacakan maka hal pertama yang akan terasa di telingga
kita adalah nada dan langgamnya. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata–kata
yang dipilih melahirkan keserasiaan bunyi dan kemudian kumpulan kata-kata itu
melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya.
Bacalah Surah
An-Naziat (79): 1-14
وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا (1) وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا (2) وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا
(3) فَالسَّابِقاتِ سَبْقًا (4)
فَالْمُدَبِّرَاتِ
أَمْرًا (5). (النازعات : 1-5)
Kemudian begitu
pendengaran mulai terbiasa dengan nada dan langam ini, Al-Qur’an mengubah nada
dan langgamnya. Dengarkanlah lanjutan ayat tersebut
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ (6) تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ
(7) قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ (8) أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ (9) يَقُولُونَ أَئِنَّا
لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ (10) أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً (11) قَالُوا
تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ (12) فَإِنَّمَاِهيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ (13) فَإِذَا
هُم بِالسَّاهِرَةِ (14). (النازعات :6-14)
Setelah itu
dilanjutkannya dengan mengubah nada dan langgamnya hingga surah itu berakhir.
- Singkat dan padat
Al-Qur’an memiliki
keistimewaan bahwa kata dan kalimatnya yang singkat tetapi sarat makna
- Mudah memahami ayat Al-Qur’an dan di ambil pelajarannya
- Memuaskan Akal dan jiwa
Manusia memiliki
daya pikir untuk memberikan argumentasi guna mendukung pandangannya, sedangkan
daya kalbu mengantarkannya untuk mengekspresikan keindahan dan mengembangkan
imajinasi.
Contoh: bagaimana
perintah berbuat baik kepada kedua orangtua dibarengi dengan argument logika
yang dimulai dengan mengingat sang anak tentang supaya payah ibu mengandung,
melahirkan dan menyusukan anaknya.
Selanjutnya perintah
tersebut dikaitkan dengan sentuhan batin yakni mengingatkan manusia bahwa
seseorang yang telah dewasa pasti mengharapkan anak-anaknya dapat berbakti. [8]
- Keindahan dan ketepatan maknanya
Tidak mudah
menjelaskan keindahan bahasa Al-Qur’an bagi yang tidak memiliki pengetahuan
tentang tata bahasanya, namun kalau kita membaca atau mendengar bacaan
Al-Qur’an akan terasa nyaman dan menyentuh hati.
Dan ketepatan
maknanya bisa kita menganalisis[9]
QS. Al-Baqarah (2): 91
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ
قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ
مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ
إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Apabila dikatakan
kepada mereka (orang-orang yahudi),, “percayalah apa yang diturunkan Allah,”
mereka menjawab, “kami hanya percaya dengan apa yang diturunkan kepada kani.”
Mereka mengkufuri apa yang datang sesudahnya, padahal ia membenarkan menyangkut
apa yang ada pada (di tangan) mereka. Katakanlah, “Kalau demikian, mengapa kamu
membunuh nabi-nabi Allah sebelum ini, kalau kamu memang percaya?”
Kandungan ayat
diatas mencangkup tiga hal pokok:
Pertama,
pernyataan آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ (percayalah kepada apa yang diturunkan Allah)
merupakan nasihat kepada orang yahudi unuk percaya kepada Allah.
Kedua, jawaban
mereka نُؤْمِنُ
بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا
(kami percaya dengan apa yang diturunkan kepada kami) yang merupakan jawaban
mereka mengandung dua maksud utama
Nasihat tersebut
bermaksud menyatakan, percayalah kepada Al-Qur’an sebagaiman kalian percaya
kepada Taurat. Bukankah kalian percaya kepada kitab Taurat yang dibawa Musa
a.s. karena kitab Taurat diturunkan oleh Allah.kalimat diatas singkat tapi mengandung makna yang padat. Kalimat
ini menyebut alasan keharusan mempercayainya kerana Al-Qur’an diturunkan oleh
Allah dan jawaban mereka mengndung makna bahwa kepercayaan mereka kepada Taurat
bukan saja disebabkan karena ia diturunkan Allah tetapi juga karena ia
diturunkan untuk kami.
Ketiga, merupakan
tangkisan terhadap kedua jawaban itu وَهُوَ الْحَقُّ penggalan ayat ini menyatakan “Bagaimanamungkin kepercayaan
mereka kepada Taurat mengantarkan mereka menolak Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an
adalah sesuatu yang hak, bahkan dialah kebenaran mutlak. Sehingga kepercayaan
mereka kepada salah satunya mengakibatkan kekufuran mereka[10]
2)
Keseimbangan Redaksi Al-Qur’an
Rasysad khalifah
memulai pembuktian idenya tersebut dengan kata basmalah yang terdiri dari 19
huruf. بسم الله الرحمن الرحيم yang
terdapat dalam Al-Qur’an. Tidak terlebih dan atau berkurang satu hruf pun dari
kata-kata yang digunakan oleh Al-Qur’an kesemuanya habis terbagi oleh angka 19,
perinciannya adalah sebagai berikut:[11]
a)
Ism (اسم)
dalam Al-Qur’an sebanyak 19 kali
b)
Allah ( الله)sebanyak 2.698 kali yang merupakan perkalian 142 x19
c)
Ar-Rahman
الرحمن)) sebanyak 57 kali = 3 x 19
d)
Ar-Rahim
الرحيم)) sebanyak 114 = 6 x 19
Dari sini kemudian
ia beralih pada keseimbangan-keseimbangan yang lain,seperti:[12]
a)
keseimbangan
antara jumlah bilangan kata dengan antonimya
الحياة ( kehidupan) dan الموت ) kematian) masing masing sebanyak 145 kali
النفع(an-naf’/ manfaat) dan ) الفسادal-fasad/kerusakan) masing-masing sebanyak 50
kali
b)
Keseimbangan
antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya
الانفاق ( al-infaq/ menafkahkan) dan الرضا ( ar-ridha/ kerelaan) masing-masing sebanyak 73 kali
الكافرون (al-kafirun/ orang-orang kafir) dan النار (an-nar/ neraka) masing-masing sebanyak 154 kali
c)
Keseimbangan
antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya
الاسراف (al-israf/ pemborosan)
dan السرعة (as-sur’at/ ketergesa-gesaan)
masimg-masing sebanyak 23 kali
2.
Adanya
berita –berita ghaib dalam Al-Qur’an
Ghaib adalah sesuatu
yang tidak diketahui, tidak nyata atau tersembunyi. Al-Qur’an mengungkap sekian
banyak hal ghaib meliputi berita ghaib
dari masa lalu, masa kini ataupun masa yang akan datang.
Contoh dalam Al-Qur’an menceritakan hal-hal yang
akan datang. Yakni, hal-hal yang pada waktu itu belum terjadi, tetapi kemudian terjadi
terdapat dalam QS. Ar-Rum (30): 1- 4
الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ
وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ
وَمِن بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4). ( الروم : 1-4)
Artinya: Alif Laam
Miim (1) Telah dikalahkan bangsa Romawi (2) Di negeri yang terdekat, dan mereka
sesudah dikalahkan itu akan menang (3) dalam beberapa tahun lagi bagi Allah-lah
segشla urusan sebelum dan sesudah(mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu
bergembiralah orang-orang yang beriman (4). (QS. Ar-Rum 1-4)
Sejarawan
menginformasikan bahwa tahun 61 H terjadi peperangan antara Romawi dan Persia.
Ketika itu bangsa romawi kalah atas Persia.
Dalam ayat ke tiga disebutkan bangsa romawi akan menang terhadap bangsa
persia, setelah dikalahkan. Ternyata pemberitaan itu benar-benar terjadi dan
pada tahun 622 M terjadi lagi peperangan antara keduanya dan pada peperangan
ini dimenangkan oleh Romawi.[13]
3.
Isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab
yang diturunkan oleh Allah yang meengetahui segala rahasia dan hukum-hukumnya,
bahkan dia juga yang menciptakan
rahasia-rahasia dan hukum-hukumnya. Didalam Al-Qur’an terdapat
penjelasan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dalam redaksi yang singkat
dan sarat makna
Contoh ayat yang mengisyrakatkan peranan sperma
dalam menentukan jenis kelamin anak.[14] adalah
firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah (2) : 223
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ
أَنَّى شِئْتُمْ ..... (البقرة: 223)
Artinya” Istri-istrimu
adalah ladang bagimu,maka datangilah ladangmu bagaimana kau kehendaki……
Penjelasannya:
Apabila petani menanam tomat di ladangnya, maka jangan harapkan yang tumbuh
adalah buah selain tomat diladangnya, karena ladang hanya menerima benih. ini
berarti yang menentukan jenis tanaman berbuah adalah petani bukan ladangnya.
Jika demikian bukan wanita yang
menentukan jenis kelamin anak, tetapi yang menentukan adalah benih yang
“ditanam” ayah di dalam rahim.
D.
Peranan
i’jaz Al-Qur’an dalam pemahaman Al-Qur’an dan penyampaian Risalah
Dari pengertian
diatas maka dapat kita ketahui peranan ijaz Al-Qur’an adalah
1.
Membuktikan
kebenaran nabi Muhammad adalah benar-benar utusan Allah dan penyampai risalah
2.
Membuktikan
Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah
3.
Memperkuat
keimanan keimanan serta menambah keyakinan akan kekuasaan Allah
4.
Petunjuk
bagi umat manusia
5.
Kitab
untuk semua zaman
6.
Menunjukkan
kelemahan mutu sastra manusia
7.
Semakin
memperkaya khazhanah keilmuan yaitu ilmu umum dan ilmu agama
E.
Hubungan
Al-Qur’an dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dalam segi
isyarat ilmiah telah dijelaska,
Berbagai ayat atau pun penggalan-pengalan ayat Al-Qur’an membicarakan
masalah yang berkaitan dengan sains dalam redaksi yang singkat dan sarat makna.
dSalah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah Al-Qur’an dan
al- Sunnah mengajak kaum muslimin untuk
mencari ilmu serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat
yang tinggi.
Al-Suyuti di dalam bukunya Al-Ithqan fi ‘Ulum
Al-Qur’an, beliau berpendapat bahwa Al-Qur’an mencangkup seluruh Ilmu-ilmu:[15]
“Ia berpendapat
bahwa Al-Qur’an mengandung seluruh ilmu pengetahuan dan kitab Allah itu
mencangkup segala sesuatu, tidak ada bagian atau problem dasar suatu ilmu pun
tidak ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an seseorang dapat menemukan
aspek-aspek menakjubkan pada penciptaan langit dan bumi.”
Para ulama terdahulu
memandang Al-Qur’an sebagai sumber sagala ilmu itu lahir dari keyakinan terhadap
komprehensifnya Al-Qur’an. Tetapi ulama
sekarang, di samping meyakini hal ini,lebih menekankan pembuktian akan
keajaiban Al-Qur’an dalam bidang keilmuan.[16]
Didalam Al-Qur’an
terlebih dahulu ditemukan teori-teori ilmu pengetahuan sebelum ditemukan oleh teori-teori
ilmu pengetahuan modern. Teori Al-Qur’an sama sekali tidak bertentangan dengan
teori ilmu pengetahuan modern. hal ini sudah diakui sacara luas, termasuk oleh
kalangan ilmuwan barat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
berdiri atas sumbangan ilmuwan –ilmuwan muslim.
Contoh kejadian alam
semesta Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa langit dan bumi tadinya satu
gumpalan melalui Firman-Nya QS. Al-Anbiya (21): 30
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ
حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ. (الانبياء: 30)
Artinya Tidakkah
orang kafir memperhatikan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu yang
padu (menyatu), kemudian kami memisahkannya dan kami jadikan dari segala sesuatu yang hidup berasal dari air,
maka mengapa mereka tidak juga beriman?
Apa yang telah
dikemukan di atas tentang keterpaduan alam raya kemudian pemisahannya
dibenarkan oleh obsevasi para ilmuan, yaitu observasi Edwin P. Hubble melalui teropong bintang raksasa pada
tahun1929 menunjukkan adanya pemuaian alam semesta.
Jadi, sains telah
mengungkapkan tidak ada penemuan baru ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak
diramalkan oleh Al-Qur’an. Tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu alam ataupun
fisika tetapi Al-Qur’an adalah kitab petunjuk atau pembimbing untuk kebahagiaan
di dunia dan akhirat, maka didalamnya terdapat berbagai peunjuk yang berkaitan
juga dengan ilmu pengetahuan.
Dan penalaran yang
dibangkitkan Al-Qur’an lewat berbagai petunjuk pengarahan dan hukum-hukum
inilah yang bisa mewujudkan kebangkitan ilmiah dan menciptakan cendikiawan yang
bisa melakukan penelitian dan inovasi di segala bidang seperti yang telah
terjadi pada peradaban Islam
[1]
Zuheldi, Ulumul Qur’an I, (Jakarta: PT Quantum Press, 2003), Cet. ke-1,
h. 171
[2]
M. Quraish Shihab, Mu’jizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan,
Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 1998), Cet. ke- IV,
h. 23
[3]
Hasan Zaini, et al, Ulum
al-Qur’an, (Batusangkar: STAIN Batusangkar Press, 2011), Cet. ke- 2, h. 176
[4]
Zuheldi, op.cit., h. 175
[5] Yusuf Al-Qaradhawi, Terjemahan
Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Qur’an, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi,
“Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur’an”, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2000),
h. 28
[6] Zuheldi, op.cit., h. 177
[7] M.Quraish Shihab, op. cit., h. 118-120
[8] Ibid., h. 129
[9] Ibid., h. 134-135
[10] Ibid.,
h. 136
[11] Ibid.,
h.139
[12] Ibid., h. 141-142
[13]
Hasan Zaini, op .cit., h.178
[14] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 168-169
[15]
Mahdi Ghulsyani,Terjemahan Filsafat sains menurut al-Qura, diterjemahkan oleh
Agus Efendi, “The Holy Qur’an and Sciences of
nature”, (Mizan: Bandung, 1998), cet. x, h. 139
[16]Ibid., h. 140
Komentar
Posting Komentar